Friday, April 27, 2012

Bahasa Jawa dan hakikatnya bagi kita

Pembelajaran adalah kegiatan interaksi edukatif antara peserta didik dengan guru. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan tatap muka sebagaimana dimaksud dalam, PP No. 74 tahun 2008, yang isinya antara lain merupakan kegiatan bimbingan dan latihan kepada peserta didik yang belum menguasai kompetensi yang harus dicapai (Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru dan Pengawas, 2009:10)
Bahasa Jawa adalah salah satu Mulok dalam struktur kurikulum di tingkat pendidikan SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK, bahkan di Propinsi Jawa Tengah menjadi mulok wajib bagi semua jenjang pendidikan.
Budaya diartikan sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat. Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan (virtues) yang diyakininya dan digunakannya sebagai landasan untuk cara pandang berpikir dan bertindak. Pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah usaha bersama sekolah dan oleh karenanya dilakukan secara bersama oleh semua guru dan pimpinan sekolah, melalui semua mata pelajaran dan menajdi bagian yang tak terpisahkan dari budaya sekolah. (Pusat Kurikulum Balitbank Kemendiknas, 2010: 2)
SDN KALICILIK
Sejalan dengan itu Edi Sedyawati dalam Paul Suparno, dkk (2002:27), budi pekerti sering diartikan sebagai moralitas yang mengandung pengertian adat istiadat, sopan santun dan perilaku. Budi pekerti sebagai alat batin untuk menimbang perbuatan baik / buruk. Sebagai alat batin, moralitas (budi pekerti) dianggap sebagai suatu yang ada dalam diri seseorang yang terdalam seperti suara hati. Emile Duekheim (1990 : X) menyebutkan moralitas merupakan keteraturan tingkah laku dengan unsur pertama adalah disiplin, jadi moralitas berhubungan dengan perilaku yang positif.
Pembelajaran Bahasa Jawa khususnya dalam penerapan unggah-ungguh oleh siswa dianggap kompetensi yang paling sulit, karena untuk menerapkan unggah-ungguh diharapkan siswa mampu menguasai kompetensi berbahasa Jawa dengan baik dan benar. Unggah-ungguh dalam berbahasa Jawa sebenarnya secara kelompok besar dikategorikan menjadi tiga jenis yakni ngoko, madya dan krama. Bahkan ketiga kelompok tersebut kemudian diuraikan lagi menjadi sembilan yaitu:
(1) ngoko andhap antya basa,
(2) ngoko andhap basa antya, madya ngoko,
(4) madya krama,
(5) kramantara,
(6) wredakrama,
(7) kramadesa,
(8) mudakrama dan
(9) kramainggil.

Ragam yang begitu banyak dan rumit akhirnya para pakar Bahasa Jawa menyederhanakan menjadi 4 ragam, yakni : ngoko lugu, ngoko alus, kromo lugu, dan kromo alus (menurut kurikulum Berbahasa Jawa Tahun 2010). Hal ini bertujuan agar mendukung peningkatan ketrampilan berbahasa serta sesuai dengan kebutuhan peserta didik juga memenuhi azas fungsional komunikatif. Para siswa dituntut untuk bisa menerapkan keempat ragam di atas secara laras dan leres, yakni siswa berbicara dengan siapa,dimana, pada posisi bagaimana, misalnya apa sedang bicara dengan anak kecil, teman sebaya, orang tua, guru, orang yang lebih dihormati, dan lain-lain tentulah menggunakan ragam bahasa yang berbeda-beda. Karena sulitnya penerapan unggah-ungguh berbahasa tersebut menyebabkan siswa enggan, malas, kurang prigel kurang mersudi, durung Jawa/ora Jawa, sementara para guru dan orang tua biasanya menyalahkan, menggerutu, nyacat, kurang mencari jalan keluar, untuk itu dalam makalah ini akan dicoba mencari solusi agar siswa menjadi familiar dengan Bahasa Jawa, tidak lagi takut ataupun ragu-ragu dalam menerapkan unggah-ungguh.

Dengan adanya ragam bahasa yang harus dipilih dalam berkomunikasi berbahasa Jawa siswa perlu diingatkan akan adanya 4 hal, yakni :
(1) mawas diri(tinggi atau rendah, tua atau muda, posisi/peprenahan serta umur dibandhing dengan yang di ajak bicara ,
(2) mawas ragam yang dipilih (ngoko, krama,atau krama inggi)l, ,
(3) mawas kosakata (jangan sampai keliru ragam krama inggil untuk dirinya sendiri,
(4) mawas sikap (gerak tubuh, mimik, ngapurancang atau bahkan malang kerik) sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat.
Unggah-ungguh berbahasa merupakan penerapan berbahasa Jawa yang selaras dengan situasi dan kondisi dengan mengingat :
(1) pembicara atau orang pertama (utama purusa),
(2) lawan bicara atau orang kedua (madyama purusa),
(3) orang yang dibicarakan atau orang ketiga (pratama purusa). Contoh : Orang pertama kepada orang kedua “Panjenengan esuk-esuk kok wis resik-resik ana apa ta?”. Orang kedua menjawab “Apa ora midhanget panjenengan kuwi, menawa Bapak Bupati mengko arep rawuh” (Bapak Bupati itu orang ketiga yang disebut oleh orang kedua adalah orang yang dihormati). Contoh aplikasi di kelas ‘Bu guru kula ngrumiyini kondur” Kalimat ini kelihatannya halus namun menurut unggah-ungguh ini salah ada kata kondur. kata kondur termasuk kosakata krama inggil tidak boleh diterapkan untuk diri sendiri / orang pertama.
Siswa dianggap “durung Jawa” atau “Ora Jawa” dapat terlihat pada contoh-contoh kalimat yang sering diucapkan siswa seperti di bawah ini :
a. Aku wis mangan, Bapak yo uwis mangan kok.
b. Nuwun sewu kula tindak rumiyin.
c. Malem Minggu Bapak anggone turu nganti wengi.
d. Bapak maca koran karo ngombe kopi.
e. Sadurunge sekolah aku siram dhisik.
f. Simbah tuku oleh-oleh kanggo aku lan adhiku.
g. Mbar, Pak Guru akon nggarap apa?
h. Bu Guru mau omong piye?
i. dst.
Karena sulitnya penerapan unggah-ungguh tersebut maka guru hendaknya secara terus menerus memprogram pembelajaran Bahasa Jawa yang sesuai dengan prinsip, tujuan, materi, metode penerapan dan penilaian agar pembelajaran Bahasa Jawa menjadi pembelajaran yang tidak ditakuti dan disegani oleh siswa. Dalam pembelajaran Bahasa Jawa mengambil prinsip-prinsip yang akan diuraikan di bawah ini :

2. Prinsip-prinsip Pembelajaran Bahasa Jawa
Pembelajaran memiliki beberapa prinsip yakni, harus bertujuan dan terarah, Memerlukan bimbingan, memerlukan pemahaman sehingga diperoleh pemahaman, memerlukan latihan dan ulangan, merupakan proses aktif peserta didik dengan lingkungannya, disertai keinginan dan kemauan untuk mencapai tujuan, disertai proses internalisasi diri dari si pembelajar, dianggap berhasil jika telah sanggup menerapkan dalam praktik kehidupan sehari-hari
Pembelajaran Bahasa Jawa berdasarkan Kurikulum 2010 lebih menekankan kepada pendekatan komunikatif yaitu pembelajaran yang mempermudah para siswa agar lebih akrab dalam pergaulan dengan menggunakan Bahasa Jawa dan melatih siswa untuk lebih senang berbicara menggunakan Bahasa Jawa yang benar dan tetap sesuai dengan situasinya.
Pembelajaran Bahasa Jawa diajarkan dari SD sampai dengan SMP bahkan sampai SMA secara berkesinambungan, selaras antara kompetensi dasar yang satu dengan kompetensi dasar lainnya. Dalam pembelajaran ini ada 4 aspek yang diajarkan oleh guru yaitu :Mendengarkan, Berbicara, Membaca, Menulis. Keempat aspek tersebut tidak dapat terpisah antara satu aspek dengan aspek lainnya, dalam pembelajaran hanya penekanannya lebih difokuskan pada salah satu aspek, artinya pada pembelajaran mendengarkan siswa tidak hanya dituntut mendengarkan saja akan tetapi siswa juga harus dapat berbicara, menulis dan mengapresiasikannya dalam bentuk sastra. Di bawah ini beberapa contoh model pembelajaran yang dapat diajarkan kepada siswa, dalam mengemas aspek- aspek yang saling mendukung.
Peranan guru dalam pengembangan bahasa Jawa terutama penerapan unggah-ungguh sangat penting dan dominan dalam keberhasilan pembelajaran bahasa Jawa. Mengingat guru bahasa Jawa adalah orang-orang yang tugasnya setiap hari membina bahasa Jawa, orang yang semestinya merasa paling bertanggung jawab akan perkembangan bahasa Jawa adalah guru, orang yang selalu akan dituding oleh masyarakat bila hasil pengajaran bahasa Jawa disekolah tidak memuaskan. Guru memegang peranan terpenting dalam menentukan keberhasilan pengajaran. Bagaimanapun baiknya kurikukulum dan lengkapnya sarana prasarana, apabila guru tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka pengajaran pastilah tidak akan memberikan hasil yang memuaskan.
Mengingat pentingnya peranan guru dalam menentukan keberhasilan pengajaran dengan demikian penting juga peranannya dalam pembinaan budi pekerti dan pendidikan karakter bangsa, maka seorang guru harus senantiasa mencari cara terbaik dalam menyajikan pembelajaran. Cara yang baik dalam menyajikan pembelajaran baiknya didukung oleh kreatifitas, kompetensi, dan performansi yang baik pula. Maka guruakan mampu menumbuhkembangkan minat murid dan membangkitkan kecintaan murid kepada mata pelajaran bahasa Jawa. (Sumarlam, 2011 : 29)

Contoh kreativitas guru dalam membelajarkan aspek-aspek ketrampilan berbahasa khususnya pada penerapan unggah-ungguh.
a. Aspek Mendengarkan
Pembelajaran Bahasa Jawa pada aspek mendengarkan dapat dilakukan beberapa langkah-langkah pembelajaran yang menyenangkan antara lain : Salah satu siswa ditunjuk untuk maju dan menceritakan pengalaman sehari-hari, kesukaan kejadian yang mengesankan dengan menggunakan ragam bahasa tertentu di depan kelas. Siswa yang lain memperhatikan apa yang menjadi isi dari cerita temannya. Jika kemudian yang bercerita sudah selesai tidak dipersilahkan duduk dahulu, tetapi beri kesempatan kepada teman-temannya untuk bertanya jawab tentang cerita yang disampaikan, juga dengan menggunakan ragam tertentu agar sekaligus menerapkan unggah-ungguhnya. Peran guru disini sebagai fasilitator bagi siswa tersebut bila ada pertanyaan yang tidak jelas. Setelah itu guru memberi tugas kepada siswa yang lain untuk menceritakan kembali cerita yang didengar tersebut baik secara lisan maupun tulisan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah cerita yang disampaikan temannya tadi dapat diterima dengan baik atau tidak.Setiap tampilan siswa selalu dikembangkan alih kode dengan ragam bahasa (ngoko, krama maupun krama inggil)
1. Pembelajaran mendengarkan dapat juga diajarkan dengan mengajak siswa untuk mendengarkan dongeng baik melalui kaset maupun melalui teks yang dibacakan guru. Siswa mendengarkan cerita sambil mencatat hal-hal yang penting. Setelah dongeng selesai didengar, guru memberikan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan cerita dan siswa menjawab pertanyaan baik secara lisan ataupun tulisan. Selanjutnya berilah kesempatan kepada siswa untuk menceritakan kembali cerita tersebut baik secara lisan maupun tulisan, kemudian bentuk kelompok untuk diberi tugas membuat pertanyaan dan jawaban dari wacana yang didengar dengan ragam bahasa tertentu, dan dapat digunakan untuk mencari pasangan dalam kelompok (make-amatch)

b. Aspek Berbicara
Berbicara merupakan aspek pembelajaran Bahasa Jawa yang sangat relevan dalam aplikasi penerapan unggah-ungguh berbahasa. Contoh skenario :
1. Siswa diajak untuk menceritakan pengalaman sehari-hari dengan menggunakan Bahasa Jawa sesuai dengan ragam bahasa yang dimiliki, teman yang lain mengajukan pertanyaan dengan ragam bahasa tertentu.
2. Menceritakan kembali teks bacaan yang dibaca. Dapat menceritakan dengan basa ngoko, basa krama atau basa dialek dari suatu daerah.
3. Langkah pembelajaran selanjutnya mengajak siswa untuk menjawab pertanyaan yang merupakan bagian dari ketrampilan berbicara. Dalam pembelajaran ini siswa dilatih untuk mempelajari unsur pragmatik, yaitu siapa, suasana, sarana, tempat. Arah dan wujud dari pertanyaan yang harus diperhatikan adalah apa, siapa, berapa, dimana, kapan, mengapa dan bagaimana. Pembelajaran ini dapat lebih menarik bila dilakukan dengan bermacam model pembelajaran seperti percakapan (pacelathon), pidato (sesorah) atau wawancara, sesuai dengan obyek yang diminati siswa. Semua itu dapat melatih siswa agar dapat menggunakan Bahasa Jawa dengan senang dan benar dengan metode role playing sesuai unggah-ungguh.
Selain di atas masih banyak model pembelajaran yang diberikan sehingga siswa menjadi lebih menyukai dan tertarik dengan pelajaran Bahasa Jawa. Strategi pembelajaran dengan menggunakan beberapa pendekatan diperlukan dalam menyampaikan pembelajaran Bahasa Jawa ini, misalnya pendekatan CTL (Contekstual Teacher and Learning), pendekatan komunikatif fungsional atau pendekatan konstruktifisme. Indikator keberhasilan PBM dapat dilihat dari perubahan sikap perilaku siswa, anak mulai bersikap sopan, bertutur kata dengan cara yang baik, mulai lebih menghormati guru, orang tua, teman-temannya. Sikap kesopanan diaktualisasi misalnya pada saat berangkat dan pulang sekolah mencium tangan kedua orang tua, guru dll.
Metode metode yang dapat digunakan untuk mengembangkan penerapan unggah ungguh antara lain : (1) Simak-ulang ucap digunakan dalam memperkenalkan bunyi-bunyi tertentu, contoh t, dengan th pada kata tutuk atau thuthuk, d, dengan dh pada kata dandang atau dhandang,
(2) Simak kerjakan, menerapkan model ucapan guru yang berisi kalimat perintah,
(3) Simak-Terka, guru memberikan deskripsi suatu benda atau kalimat rumpang siswa menebak dan melengkapi kalimat,
(4) Menjawab pertanyaan,
(5) Parafrase
(6) Merangkum
(7) Bisik Berantai
(8) Identifikasi kata kunci.

3. Bentuk Pengintegrasian Watak Dan Karakter Dalam Pembelajaran Bahasa Jawa
Pada dasarnya pembelajaran Bahasa Jawa pada saat ini diharapkan agar para siswa lebih menyenangi budaya bangsa khususnya Budaya Jawa. Dengan menumbuhkan cipta, rasa dan karsa, siswa diajak untuk mengenal dan lebih mencintai budaya sendiri, serta mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Praktek dalam pembelajaran Bahasa Jawa memasukkan nilai-nilai ke Jawaan yang diharapkan melalui tahapan-tahapan di bawah ini:
a. Mengkaji SK dan KD untuk menentukan apakah nilai-nilai budaya Jawa/penerapan unggah-ungguh sudah tercakup di dalamnya.
b. Menggunakan tabel yang memperlihatkan keterkaitan antara SK/ KD dengan nilai dan indikator untuk menentukan nilai budaya Jawa yang akan dikembangkan.
c. Mencantumkan nilai-nilai budaya Jawa ke dalam silabus.
d. Mencantumkan nilai-nilai budaya Jawa yang sudah tercantum dalam silabus ke RPP.
e. Mengembangkan proses pembelajaran siswa aktif yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan melakukan internalisasi nilai dan menunjukkannya dalam perilaku yang sesuai.
f. Memberikan bantuan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan untuk internalisasi nilai maupun untuk menunjukkannya dalam perilaku.
Pembelajaran yang efektif memerlukan kreatifitas Guru. Contoh kreatifitas Guru dalam menerapkan unggah-ungguh yang dapat dikembangkan.
Dalam upaya menunjang kemudahan pembelajaran Bahasa Jawa khususnya dalam penerapan unggah-ungguh Guru dan siswa perlu mempersiapkan sarana dan prasarana atau peraga yang digunakan seperti di bawah ini :
a. Guru menyiapkan/memberi tugas siswa membuat kartu kata sebanyak-banyaknya, berwarna warni dengan 3 ragam bahasa (ngoko, krama, dan krama inggil).
b. Siswa secara berpasangan memainkan kartu-kartu kata tersebut, tiap siswa mendapat 10 kata ragam ngoko, 10 kata ragam krama, dan 10 kata krama inggil.
c. Secara berpasangan maupun permainan kelompok menggunakan kartu kata tersebut untuk menyusun menjadi kalimat dengan ragam-ragam tertentu.penyusunan kalimat ditingkatkan dari waktu ke waktu baik secara kualitas maupun kwantitas dengan games games yang menyenangkan.
d. Permainan dilaksanakan sampai anak memahami dan menerapkan langsung kepada lingkungan sesuai situasi dan kondisi yang ada saat itu.
e. Guru memberi tugas praktek penerapan unggah-ungguh kepada siswa di lingkungan sekolah sampai pada lingkungan keluarga dan masyarakat.
f. Guru memberi tugas siswa untuk mencatat penerapan-penerapan unggah-ungguh yang sudah dilakukan siswa setiap hari baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Hal tersebut di atas diterapkan dengan tindakan-tindakan yang diulang terus menerus yang akhirnya menjadi pembiasaan dan dengan tujuan akhir proses internalisasi diri dalam melaksanakan unggah-ungguh menjadi kepribadian yang melekat pada diri siswa.
Dampak penanaman watak dan pekerti bangsa bisa diambil dalam pembelajaran diatas :
1. Ditinjau dari sudut sosial budaya
a. Membantu siswa bersosialisasi dengan temannya. Hal ini terbukti dengan adanya perubahan sikap dari anak didik yang dulunya pendiam dan pemalu sekarang menjadi aktif dan kreatif, siswa secara individu maupun kelompok berinteraksi aktif.
b. Menciptakan situasi kerukunan di kelas. Hal ini terbukti dengan adanya kerjasama yang saling membantu antara anak didik dalam pembelajaran. Anak yang pandai membimbing anak yang kurang pandai dan anak yang kurang pandaipun sudah tidak takut lagi untuk bertanya kepada temannya, saling menukar peraga dll.
c. Mengembangkan sikap tolong menolong/ toleransi. Hal ini terbukti pada saat anak didik maju kedepan kelas untuk menyusun kalimat dengan peraga miliknya jika ada yang kurang, maka anak didik lainnya meminjami peraganya yang dibutuhan.
d. Mengembangkan sikap saling menghormati, sopan santun, dan tata krama.
Hal ini terbukti karena semua anak didik saling menghormati kesepakatan yang telah dibuat bersama.
e. Anak didik dapat melestarikan salah satu aset Budaya Jawa yaitu masih peduli dengan keberadaan unggah-ungguh bahasa Jawa dengan segala ragamnya yang secara umum sekarang ini sudah mulai dikesampingkan oleh anak-anak sekarang. Namun dengan adanya kreatifitas dalam pembelajaran ini ternyata anak didik sangat peduli dan bersemangat untuk mempelajari, dan menerapkannya.
2. Ditinjau dari sudut ekonomi
Anak didik ataupun guru lebih efisien atau tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal. Karena dengan skenario ini sarana yang digunakan relatif murah dan sederhana serta mudah didapat dengan hasil yang memuaskan.
3. Ditinjau dari sudut lingkungan
a. Kebiasaan yang baik disekolah terbawa oleh anak didik dalam lingkungan sekitarnya. Misalnya sifat disiplin yang ditanamkan di sekolah juga dilakukan di rumah.
b. Hubungan antara pihak sekolah dengan orang tua/ wali murid juga terjaga baik. Karena dengan adanya skenario pembelajaran ini anak didik banyak mengalami peningkatan bertata krama, bersikap, bertingkah laku baik di sekolah maupun tingkah laku kesehariannya di rumah.

Contoh Perencanaan Pengembangan unggah-ungguh yang Dapat Diprogram Guru
1. Kegiatan Rutin di Sekolah, meliputi : (a) Setiap bertemu dengan siapapun selalu memberi salam, (b) Setiap merasa bersalah meminta maaf (nuwun sewu), (c) Setiap mau mendahului selalu mohon ijin (ndherek langkung), (d) Selalu membiasakan gerakan tubuh (gesture) yang mengisyaratkan kesopanan, contoh : menganggukkan kepala, membungkukkan badan, mengacungkan ibu jari, apabila berjalan dibiasakan untuk selalu hati-hati dan sopan serta gerakan yang pantas.
2. Kegiatan Spontan, berupa: (a) kegiatan mencatat dan menegur teman yang kurang pas atau keliru atau salah dalam menerapkan unggah-ungguh dan memberi solusinya, (b) memberi penghargaan (prizing) dan menumbuhsuburkan (cherising) tingkah laku, tindak tanduk, tata krama yang sudah sesuai dengan unggah-ungguh.
3. Teladan Modelling atau Exemplary yaitu dengan mensosialisasikan dan mengimplementasikan unggah-ungguh yang benar dengan model/teladan dari para pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah maupun dari siswa yang lebih besar kepada adik kelasnya.
4. Pengkondisian
Sekolah mengkondisikan kehidupan sekolah yang mencerminkan unggah- ungguh yang baik dan benar dalam semua situasi dan kondisi.
Sekilas pandangan kami tentang hakikat pendidikan bahasa jawa, tak ada gading yang tak retak... saran dan kritik dari semua pihak sangat kami harapkan demi kemajuan blog sdn kalicilik ini pada khususnya. Jika sobat blogger berkenan mengunjungi dan berbagi pengalaman lewat Facebook dengan SDN Kalicilik anda bisa KLIK DISINI.

0 comments:

Post a Comment